PENDAHULUAN
Perancangan lingkungan (Design
for Environment = DfE) adalah kegiatan perencanaan sistemik atas keseluruhan
detail enjinering desain industry yang apresiatif terhadap lingkungan hidup.
Detail enjinering perancangan industry yang dimaksud meliputi; perancangan
keselamatan dan kesehatan lingkungan industry, perancangan keselamatan dan
kesehatan konsumen pemakai produk, perancangan perlindungan sumberdaya dan
integritas ekologi, pencegahan pencemaran dan reduksi penggunaan bahan toksik,
merancang produk yang mudah ditranspotasikan (transportability) guna menghemat
energi, perancangan meminimumkan limbah, merancang produk yang mudah dibongkar
(disassembly) dan mudah dibuang, merancang
produk yang mudah didaur ulang (recyclability) dan dimanufaktur ulang (remanufacturability).
Sasaran utama DfE adalah; keselamatan dan kesehatan lingkungan atas keseluruhan daur hidup material, proses produksi dan distribusi produk sampai pada pemanfatan produk oleh konsumen secara berkelanjutan. Pengintegrasian perancangan lingkungan industri ke dalam hubungan komponenkomponen lingkungan industri menjadi sangat penting dalam melaksanakan manajemen ekologi industry secara praktis agar dapat dicapai tujuan keberhasilan dalam upaya pengembangan produk-produk yang ekoefisien dengan tanpa melakukan pencemaran dan perusakan terhadap lingkungan hidup.
Perancangan lingkungan industri harus dapat dianalisis melalui dua aspek rancangan yaitu; perancangan keberlanjutan ekologi industri dan perancangan keselamatan dan kesehatan manusia, lingkungan, dan sumberdaya (keseluruhan daur material kehidupan). Secara hirarkhis perancangan keberlanjutan ekologi industri dapat dianalisis melalui aspek proteksi terhadap lingkungan, proteksi ekologi habitat, proteksi keanekaragaman hayati, proteksi iklim global, serta proteksi kualitas lingkungan air, udara, dan tanah. Perancangan konservasi terhadap sumberdaya alam dan lingkungan hidup meliputi; melakukan konservasi terhadap hutan dan tanah, melakukan konservasi materi dan energy untuk kegiatan operasional industry, melakukan konservasi terhadap sumber air bersih dan penggunaannya dalam kegiatan industry. Selanjutnya secara hirarkhis pula perancangan terhadap keselamatan dan kesehatan manusia, lingkungan, dan sumberdaya dapat dianalisis melalui aspek reduksi resiko, reduksi penggunaan bahan B3, pencegahan kecelakaan kerja dan sebagainya.
produk yang mudah didaur ulang (recyclability) dan dimanufaktur ulang (remanufacturability).
Sasaran utama DfE adalah; keselamatan dan kesehatan lingkungan atas keseluruhan daur hidup material, proses produksi dan distribusi produk sampai pada pemanfatan produk oleh konsumen secara berkelanjutan. Pengintegrasian perancangan lingkungan industri ke dalam hubungan komponenkomponen lingkungan industri menjadi sangat penting dalam melaksanakan manajemen ekologi industry secara praktis agar dapat dicapai tujuan keberhasilan dalam upaya pengembangan produk-produk yang ekoefisien dengan tanpa melakukan pencemaran dan perusakan terhadap lingkungan hidup.
Perancangan lingkungan industri harus dapat dianalisis melalui dua aspek rancangan yaitu; perancangan keberlanjutan ekologi industri dan perancangan keselamatan dan kesehatan manusia, lingkungan, dan sumberdaya (keseluruhan daur material kehidupan). Secara hirarkhis perancangan keberlanjutan ekologi industri dapat dianalisis melalui aspek proteksi terhadap lingkungan, proteksi ekologi habitat, proteksi keanekaragaman hayati, proteksi iklim global, serta proteksi kualitas lingkungan air, udara, dan tanah. Perancangan konservasi terhadap sumberdaya alam dan lingkungan hidup meliputi; melakukan konservasi terhadap hutan dan tanah, melakukan konservasi materi dan energy untuk kegiatan operasional industry, melakukan konservasi terhadap sumber air bersih dan penggunaannya dalam kegiatan industry. Selanjutnya secara hirarkhis pula perancangan terhadap keselamatan dan kesehatan manusia, lingkungan, dan sumberdaya dapat dianalisis melalui aspek reduksi resiko, reduksi penggunaan bahan B3, pencegahan kecelakaan kerja dan sebagainya.
Prinsip-prinsip utama DfE
termasuk :
- Memperbaiki keselamatan pekerja, kesehatan masyarakat, dan kesehatan lingkungan sementara juga menjaga atau memperbaiki kinerja dan kualitas produk. Cara lain meletakkan hal ini adalah mengurangi resiko pada pekerja, masyarakat, dan lingkungan.
- Menggunakan sumberdaya secara bijaksana.
- Menggabungkan pertimbangan lingkungan kedalam disain dan redisain produk, proses, dan teknis sistem manajemen.
DfE dimulai dengan
mempelajari dan menguji semua aspek produksi dari komoditas tertentu, termasuk
didalamnya sumber bahan mentah, perakitan, distribusi, penggunaan, dan
pembuangan akhir. Pada setiap tahapan tersebut, dampak pada lingkungan dan
kesehatan manusia ditangani. Tahap selanjutnya adalah mempertimbangkan pilihan
untuk mengurangi dampak lingkungan tersebut dengan memperbaiki disain produk.
Contoh -contoh pilihan tersebut antara lain :
- Penggunaan material yang lebih tidak berbahaya pada lingkungan, seperti kandungan energi lebih rendah, dapat didaur ulang, tidak beracun, tidak merusak ozon, merupakan limbah hasil sampingan dari proses manufaktur yang lain.
- Menggunakan sumberdaya dapat diperbaharui, sepert i material dari tumbuhan atau sumber hewan yang diambil dengan cara memperhatikan konservasi, dan memperbaharui sumber- sumber energi bagi produksi.
- Menggunakan material dengan sedikit input termasuk energi dan air.
- Meminimalkan dampak distribusi melalui mengurangi berat produk.
- Meminimalkan sumberdaya, seperti air dan energi, yang akan digunakan produk tersebut selama hidupnya.
- Memaksimalkan daya tahan dan masa pakai produk.
- Memperbaiki pilihan pembuangan akhir bagi produk final, seperti disain bagi produk atau komponennya yang dapat didaur ulang, memastikan bahwa setiap bagian tidak dapat didaur ulang dapat secara aman dibuang.
Manfaat DfE
Hasil akhir dari proses ini
seringkali berupa produk yang tidak hanya mempunyai dampak rendah pada
lingkungan namun juga mempunyai kualitas yang lebih baik dan menguntungkan dari
segi pemasaran.
Proses DfE menyediakan data
dan hal-hal penting untuk memasarkan produk yang diinginkan secara lingkungan.
Produk ‘green’ dapat nampak di benak konsumen karena juga mereka lebih tahan
lama, kualitas lebih tinggi, dan murah pengoperasiannya.
Biaya bagi pihak perakit
dapat juga direduksi. Pengurangan jumlah material dan sumberdaya yang digunakan
untuk merakit produk dapat mengurangi limbah dan polusi yang diciptakan, dan
selanjutnya biaya pembuangan limbah. Pilihan lain bagi penghematan termasuk
mengurangi pengemasan, dan mengurangi biaya transportasi dengan mengurangi
berat produk atau meningkatkan efisiensi dalam pengemasan atau penyimpanan.
Beberapa negara mulai
mengundangkan pihak produsen menarik kembali produk mereka di akhir masa pakai.
Ini dikenal sebagai ‘extendend producer responsibility’ (EPR). DfE dapat
mengatasi masalah ini, sebagai contoh dengan meningkatkan umur pakai produk,
mengurangi biaya pembuangan, membuat lebih mudah diperbaiki, dan meningkatkan
kemampu daur-ulangan keseluruhan produk atau beberapa komponennya.
Program-program Design for
the Environment (DfE) dapat memberi contoh tipe manajemen lingkungan interaktif
yang meruntuhkan atau menghindari Green Wall. Pada dasarnya DfE adalah teknik
aktifitas manajemen yang bertujuan untuk mengarahkan aktifitas pengembangan
produk dalam rangka menangkap pertimbangan lingkungan eksternal dan internal.
Perusahaan yang ingin
mengimplementasi DfE sebaiknya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut
(Fiksel, 1996) :
1. Motivasi bisnis.
Harus dijawab pertanyaan
mengenai adakah unit bisnis dimana DfE terlihat sebagai faktor kompetitif,
sudahkah konsumen memperlihatkan perhatian yang kuat pada kinerja lingkungan
dari produk atau operasi pabrik kita, apakah sudah melihat tren perubahan
peraturan yang akan mempengaruhi profitabilitas produk kita ?
2. Postur lingkungan.
Harus dijawab pertanyaan
mengenai kebijakan lingkungan dan pernyataan misi yang mendukung praktek DfE,
kesiapan berpindah dari strategi pemenuhan menjadi manajemen lingkungan
proaktif, sudahkah membuat tujuan-tujuan perbaikan lingkungan perusahaan, apa
dampak keseluruhan keberhasilan lingkungan pada perusahaan atau imej industri
kita.
3. Karakteristik
organisasi.
Harus dijawab pertanyaan
mengenai perencanaan pada implementasi sistem manajemen lingkungan yang
terintegrasi dengan baik dengan system manajemen yang ada, apakah kita sudah
menerapkan sistem teknik dalam pengembangan produk menggunakan tim lintas
fungsional, punyakah sistem bagi menganalisa produk dan kualitas proses yang
dapat dikembangkan pada atribut lingkungan perusahaan, apakah kita sudah punya
sumberdaya organisasional yang benar untuk mendukung pengurusan lingkungan dan
produk, apakah sudah punya akuntabilitas sistem d an penghargaan untuk
menyediakan insentif untuk memenuhi tujuan perbaikan lingkungan.
4. Pengalaman yang ada.
Harus dijawab pertanyaan
mengenai pencapaian perusahaan yang telah dibuat mengenai disain green dan isu
praktis dan hambatan yang telah dilewati, sudahkah melakukan tindakan
penanganan siklus hidup bagi fasilitas dan atau produk, sudah adakah program
dan keahlian dalam daur ulang material, konservasi sumber daya, pengurangan
limbah, atau asset recovery, sudahkan diimplementasi inisiatif pencegahan
polusi dan pabrik memperhatikan lingkungan, sudahkah dicoba untuk mengenalkan
pengukuran kualitas lingkungan dan sistem manajemen ke dalam proses operasi,
sudahkah mengembangkan teknologi yang berguna bagi DfE seperti pemodelan
berbasis komputer, atau perangkat pendukung keputusan.
5. Tujuan strategis.
Harus dijawab pertanyaan
mengenai kasus bisnis yang mengindikasikan DfE akan menyumbangkan keuntungan
bagi perusahaan atau pengembangan bisnis, dapatkah mengidentifikasi perbaikan
lingkungan yang diinginkan dalam produk atau proses tertentu, apakah sudah
mengenali kemitraan kunci dengan pemasok atau pelanggan yang diperlukan dalam
menerapkan DfE, apakah berharga untuk meningkatkan kepedulian lingkungan
diantara pegawai kita, pelanggan, pemasok, masyarakat, atau pemeg ang saham
lainnya, apakah kita siap untuk bergerak menuju sistem akuntansi lingkungan
siklus hidup yang menggunakan struktur berbasis aktifitas untuk mengungkap
biaya dan manfaat sebenarnya.
Perancangan Ekologi Industri
Dalam rangka
mengintegrasikan perancangan ekologi industri kedalam proses pengembangan
produk-produk baru, maka elemen-elemen kunci yang dipersyaratkan dalam
perancangan ekologi industry adalah:
1). Ukuran atau nilai
ekoefisiensi yang dikendalikan oleh kebutuhankebutuhan dasar konsumen, dan
tujuan kegiatan perusahaan industri guna menopang dayaguna serta ketahanan
lingkungan,
2). Praktik-praktik perancangan
ekoefisiensi harus dilandasi dengan penggunaan teknologi yang relevan dan ramah
lingkungan, serta didukung oleh adanya petunjuk rekayasa enjinering
jelas,
3). Metode analisis ekoefisiensi
digunakan untuk menilai maksud dan tujuan perancangan yang memperhatikan ukuran
atau nilai ekoefisiensi, dan menganalisis biaya-biaya serta kualitas produk
yang hendak diproduksi.
Praktik-praktik perancangan
ekologi industri yang lazim digunakan oleh industri pada akhirakhir ini adalah:
1). Melakukan substitusi
bahan baku produksi; dilakukan dengan cara mengganti material baku produk
dengan material pengganti yang lebih berkualitas dalam rangka meningkatkan daya
daur (recyclability) produk dan meminimumkan penggunaan energi pada keseluruhan
kegiatan industry,
2). Mereduksi sumber limbah;
dilakukan dengan cara meminimumkan jumlah massa produk, termasuk meminimumkan
massa bungkus produk yang pada akhirnya dapat mereduksi jumlah limbah per unit
produk yang dihasilkan oleh industry,
3). Mereduksi penggunaan bahan
kimia; mereduksi dan mengeleminir jumlah dan jenis bahan kimia toksik dalam
proses produksi, 4). Mereduksi jumlah penggunaan energi; mereduksi jumlah
energi yang dipakai untuk proses-proses: produksi, transportasi, penyimpanan,
perawatan, penggunaan, dan daur ulang, serta proses pembungkusan produk,
5). Memperpanjang usia
pakai produk; memperpanjang usia pakai produk dan atau komponen-komponen
produk, serta mereduksi jumlah limbah, 6). Perancangan daya pemisahan dan daya
pembongkaran; melakukan penyederhanaan terhadap cara bongkar pasang produk
(misal bongkar pasang produk lemari) dengan menggunakan teknikcepat kancing
(snap) dan penerapan pengkodean (coding) menggunakan plastik berwarna yang
secara cepat dapat terbaca oleh pengguna produk,
7). Perancangan daya daur ulang;
menjamin kandungan material dalam produk untuk dapat didaur ulang, dengan
limbah minimum sejak awal proses produksi sampai pada produk akhir,
8). Perancangan daya/kemampuan
untuk dapat dibuang; menjamin bahwa material yang tidak dapat didaur ulang
berikut komponen-komponennya dapat secara aman dan efisien untuk dibuang ke
lingkungan (misalnya pembatasan jumlah penggunaan tinta dan pigment pada
produk),
9). Perancangan kemampuan
material untuk dapat didaur ulang (reusability); mendorong agar dapat
diciptakan produk yang dapat dipulihkan dan dimanfaatkan kembali, serta dapat
diperbarui kembali,
10). Perancangan remanufacture;
mendorong pemulihan material limbah setelah proses industri, atau pasca pakai
oleh konsumen pemakai guna dapat didaur ulang sebagai input pada pabrik yang
menghasilkan produk baru lainnya,
11). Perancangan pemulihan
energi; melakukan ekstraksi energi dari limbah yang terjadi, misalnya melalui
proses incenerasi.
KESIMPULAN
DfE merupakan salah satu alat yang digunakan untuk merancang secara sistemik terhadap desain enjinering industry yang apresiatif terhadap ekologi, dan secara sukses telah dilakukan dalam bidang manajemen EH&S (environmental health and safety). Perancangan lingkungan industry meliputi kegiatan perancangan terhadap keselamatan dan kesehatan lingkungan industry, perancangan keselamatan dan kesehatan konsumen pemakai produk, perancangan perlindungan sumberdaya dan integritas ekologi, pencegahan pencemaran dan reduksi penggunaan bahan toksik, merancang produk yang mudah ditranspotasikan guna menghemat energi, perancangan meminimumkan limbah, merancang produk yang mudah dibongkar dan mudah dibuang (tidak membahayakan lingkungan), merancang produk yang mudah didaur ulang dan dimanufaktur ulang. Perusahaan besar kelas dunia seperti; Xerox, IBM dan berbagai industry otomotif lainnya telah mempraktekkan DfE secara sukses dalam pengembangan produknya, dan secara signifikan telah memperoleh keuntungan yang sangat kompetitif. Satu faktor kunci keberhasilan pelaksanaan DfE adalah perancangan organisasi yang tepat dan cocok bagi jenis kegiatan industry dan tipologi lingkungannya, mengorganisir DfE sebagai bagian dari pengembangan produk dan melakukan pengelolaan yang ketat terhadap organisasi industri.
Sumber :
Perangkat Manajemen Lingkungan, Andie Tri Purwanto
http://andietri.tripod.com/jurnal/Tools_Manajemen_Lingkungan_a.pdfReda Rizal "PERANCANGAN LINGKUNGAN INDUSTRI DALAM UPAYA MENINGKATKAN EKOEFISIENSI PROSES DAN PRODUK INDUSTRI"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar